Apply Visa Itu Ternyata Gampang!

Sebagai pemegang paspor Indonesia yang “cuma” berada di ranking 61 dari paspor semua negara di seluruh dunia, kita memang harus agak repot ngurus visa terlebih dahulu sebelum bisa berkunjung ke negara impian tertentu. Misalnya kamu pengen banget ke Jerman atau Kanada, ya kamu harus ngurus visa terlebih dahulu ke kedutaan besar negara masing-masing.

Terus, ngurus visa itu ribet banget ya sampe banyak agen perjalanan yang nawarin jasa pembuatan visa? Buat kamu yang doyan berhemat, mau meluangkan sedikit waktu, dan pengen nambah pengalaman, tentu saja lebih baik urus visa sendiri daripada pakai jasa agen. Karena pada dasarnya ngurus visa itu cuma dateng ke kedutaan besar atau agen resmi yang ditunjuk oleh kedutaan, serahin dokumen, dan tunggu visa selesai diproses. Loh kok tetep lewat agen? Beberapa negara udah nggak melayani pengajuan visa langsung ke kedutaan, misalnya Jepang yang sekarang harus melalui VFS, Prancis yang harus melalui TLS, dll. Pengajuan visa itu pakai wawancara ngak sih? Kebanyakan sih enggak, tetapi beberapa negara misalnya Amerika Serikat ada wawancara sekalian pas serahin dokumen. 

Loh kalau gitu agen perjalanannya ngapain dong? Ini tergantung dari pengajuan visa ke negara mana. Misalnya visa Jepang atau Korea yang cuma serahin dokumen aja, ini bisa langsung dilakukan agen dan kita nggak perlu ikut ke VFS/kedutaan. Sedangkan untuk pengajuan visa Schengen pertama, kita tetap harus datang untuk pengambilan foto dan sidik jari. Malah kalau pengajuan visa Amerika Serikat harus kita sendiri yang diwawancara saat penyerahan dokumen.

Daftar dokumen yang harus diserahkan ke kedutaan bisa berbeda-beda untuk tiap negara, jadi sebaiknya kamu cek ke website resmi masing-masing kedutaan terlebih dahulu. Tapi secara garis besar, biasanya dokumen standar yang sebaiknya kamu lengkapi untuk pengajuan visa turis sbb:

Formulir aplikasi

Formulir aplikasi ini bisa kamu download di website resmi kedutaan atau agen resmi. Biasanya isinya kurang lebih data pribadi, pekerjaan, durasi perjalanan dan tujuan pergi ke negara yang mau kamu datangi.

Paspor asli

Paspor ini biasanya masih harus aktif sampai setidaknya enam bulan dari rencana tanggal kepulangan dari negara tujuan. Selain itu, kadang kamu juga harus menyertakan paspor lama kalau ada visa atau cap imigrasi bisa dijadikan referensi. Misalnya untuk pengajuan visa Jepang multiple entry, kamu harus membuktikan kalau sebelumnya sudah pernah ke Jepang dalam jangka waktu 3 tahun terakhir jadi kalau visa Jepang sebelumnya ada di paspor lama maka kamu harus menyertakan paspor lamamu juga.

Pasfoto

Ukuran pasfoto yang diminta oleh kedutaan tidak sama untuk setiap negara, jadi kamu harus cek ke website resmi masing-masing kedutaan terlebih dahulu. Biasanya pasfoto ini cukup standar, yaitu foto close up muka dengan background putih dan sebaiknya adalah pasfoto yang diambil dalam waktu 6 bulan terakhir. Bahkan di beberapa studio foto, kamu tinggal bilang mau buat pasfoto untuk pengajuan visa ke negara X dan mereka sudah punya standar ukurannya.

Surat keterangan bekerja / belajar

Surat keterangan bekerja ini diperlukan oleh kedutaan untuk memastikan bahwa kamu akan kembali ke negara asal setelah perjalanan selesai, dan bukan malah mencari pekerjaan di negara tujuan secara ilegal. Kalau kamu punya usaha sendiri, yang perlu diserahkan adalah surat registrasi usaha (SIUP, TDP, NPWP). Sedangkan kalau masih sekolah atau kuliah, dokumen penggantinya adalah surat keterangan belajar.

Bukti keuangan pribadi

Bukti keuangan yang paling standar adalah mutasi rekening 3 bulan terakhir, yang bisa kamu print sendiri melalui internet banking atau minta cetak ke bank. Selain itu, kamu juga bisa menyertakan tagihan kartu kredit serta bukit kepemilikan aset sebagai pendukung. Dokumen-dokumen ini diminta untuk memastikan bahwa kamu memang memiliki kemampuan finansial untuk “jadi turis” di negara tujuan, bukan malah jadi begpacker pas udah di sana. Selain itu, biasanya saya juga menyertakan slip gaji 3 bulan terakhir sebagai dokumen penguat walaupun tidak diwajibkan (apalagi kalau rekening tabungan lagi minimalis).

Tiket pesawat dan hotel

Tiket pesawat dan hotel ini enggak harus selalu yang sudah dibayar. Saya cukup sering mengajukan aplikasi dengan tiket pesawat dan hotel yang dummy booking, yang penting bisa menunjukkan rencana perjalanan kita dari berangkat sampai pulang. Untuk tiket pesawat dummy, saya sering pakai www.findmyfare.com yang bisa hold tiket pesawat dengan gratis sampai 48 jam. Sedangkan untuk hotel, biasanya saya pilih hotel bintang 3 yang ratingnya cukup bagus melalui Booking.com atau TripAdvisor, kemudian pesan langsung melalui website resmi hotel dan memilih rate yang free cancellation dan pay at the hotel. Setelah proses visa selesai, jangan lupa membatalkan pesanan hotel dummy yang sudah kamu buat. Sedangkan untuk tiket pesawat melalui www.findmyfare.com otomatis hangus setelah lewat dari 48 jam.

Jadwal perjalanan (itinerary)

Dari beberapa kali pengajuan visa, setau saya yang mewajibkan penyertaan itinerary hanya Jepang. Tetapi saya biasanya tetap membuatkan itinerary singkat untuk semua pengajuan visa. Tujuannya biar bisa meyakinkan kedutaan kalau kita benar-benar mau liburan dan terlihat memang ada niat buat pergi. Selain itu, dengan menyempatkan membuat itinerary, kita juga sudah siap jika diperlukan ada wawancara, misalnya pada pengajuan visa Amerika Serikat, dan diminta untuk menjelaskan tujuan kita mau ke mana saja.

Fotokopi kartu keluarga

Fotokopi kartu keluarga ini biasanya diwajibkan jika pengajuan visa dilakukan oleh beberapa anggota keluarga di KK yang sama. Seperti misalnya saya dan Shandy sama-sama mau buat visa Schengen, kami melampirkan fotokopi KK. Tetapi saat Shandy sendirian mengajukan visa Jepang multiple entry (saya sudah punya multiple entry duluan jadi tidak mengajukan lagi), tidak perlu melampirkan fotokopi KK biarpun nanti pergi ke Jepang bersama saya.

Pembuatan janji (appointment) dan pembayaran biaya visa

Beberapa kedutaan maupun agen resmi mewajibkan kamu untuk membuat appointment melalui website terlebih dahulu sebelum datang langsung. Biasanya kamu akan diminta mengisi beberapa data pribadi seperti nama lengkap, nomor dan masa berlaku paspor, dll terlebih dahulu kemudian baru bisa memilih tanggal dan jam appointment. Setelah selesai memilih appointment, akan muncul informasi biaya yang harus kamu bayarkan beserta cara pembayarannya (ada yang harus transfer bank terlebih dahulu, ada yang harus bayar tunai saat appointment, dll jadi sebaiknya kamu cek lagi sebelum jadwal appointment).

Travel insurance (opsional)

Asuransi perjalanan alias travel insurance ini setahu saya hanya diwajibkan untuk pengajuan visa Schengen saja. Tetapi tidak ada salahnya untuk mempunyai asuransi perjalanan jika kamu memiliki sedikit budget untuk disisihkan. Ini untuk jaga-jaga saja misalnya ada insiden yang tak diinginkan dalam perjalanan, entah itu terkait kesehatan, bagasi, keterlambatan/delay penerbangan. Sekarang pun banyak asuransi perjalanan yang bisa dibuat secara online misalnya Zurich, AXA, Chubb, dll jadi tidak merepotkan. Biasanya saya tetap melampirkan asuransi perjalanan meskipun tidak diminta oleh kedutaan, hanya untuk meyakinkan saja bahwa kalaupun (amit-amit) terjadi apa-apa selama perjalanan, tetap ada yang bisa menjamin keadaan saya hingga pulang ke Indonesia.

 

Nah, pengajuan visa sudah tidak terlihat ribet kan sekarang?

Perlu diingat, biarpun kamu pakai jasa agen perjalanan untuk membuat visa, kamu tetap harus menyediakan sendiri sebagian besar dokumen tersebut. Jadi, mending ngajuin visa sendiri kan?

Comments (0)
Add Comment